Sabtu, 16 Februari 2013

Titik Hujan.


Titik Hujan


Titik-titik air yang sedari tadi menetes ke tanah kini mulai berubah menjadi tumpahan air. Ya, akhirnya hujan turun dengan lebatnya. Dia mengambil nafas panjang dan dalam. Kemudian, ia ambil nafasnya lagi. Lebih panjang, lebih dalam. Aira sudah kecapaian. Tas punggungnya, tas jinjing laptopnya, membuat ia tak bisa menembus hujan. Aira suka sekali dengan hujan. Karena sebelum hujan datang, mendung membawa kesan tersendiri untuknya. Aroma mendung, dia sangat menyukainya. Saat hujan turun, selebat apapun, walau kegiatannya harus berhenti karena hujan, ia tak akan mengeluh. Ia sangat menikmati detik menuju menit menuju jam disaat hujan. Baginya menimbulkan ketenangan batin tersendiri untuknya. Bahkan Aira tak akan menolak kalau di suruh hujan-hujanan berjam-jam. Setelah hujan, inilah saat-saat yang paling ia sukai. Tapi hari ini, Aira ingin bermain hujan, tapi barang bawaannya inilah yang menahannya.
Ah, andai saja tugas hari ini gak menyita waktu, pasti aku sudah sampai rumah daritadi. Maaf hujan, hari ini aku tidak menyambutmu dengan baik.
              Waktu terus berjalan, bagaimanapun perasaannya dan bagaimanapun keadaannya. Begitu juga dengan Aira. Selalu berusaha melewati hari-harinya dengan tersenyum, dan bersyukur. Tepatnya sejak hari itu. Hari dimana ia hampir saja meninggalkan dunia ini. Ia seharusnya bahagia karena mendapatkan kesempatan lagi untuk hidup. Tetapi, takdir menghadapkan pada pilihan yang sampai kapanpun Aira tak bisa memilihnya. Ia tetap hidup dan sahabatnya; Mario, yang selalu bersama Aira sejak TK hingga SMP harus pergi. Selamanya. Kejadian itu, sungguh membuat Aira tak bisa berkata apapun. Dulu, jika Aira mengingat kejadian itu, ia akan menangis. Dengan cara itulah mengisyaratkan betapa rindunya Aira terhadap sahabatnya itu, dan betapa inginnya Aira ingin Mario tetap ada disampingnya. Untunglah, Aira sudah menemukan cara mengobati kerinduannya kepada Mario; hujan. Mario dan Aira sama-sama menyukai hujan.
                Setelah Mario tak ada di sisinya lagi, Aira mulai terbiasa sendiri, walaupun ia bukanlah sosok yang sulit untuk bersosialisasi dengan kawan lainnya. Sejak hari pertamanya di SMA, Aira menemukan sosok teman yang sekarang menjadi sahabatnya. Nayla. Teman sebangku Aira, juga teman berbagi keluh kesahnya. Apalagi disaat ia butuh saran dari seorang sahabat, Nayla ada untuk Aira. Ia mulai berjanji pada dirinya, akan menjadi sahabat yang baik untuk Nayla, sama seperti janjinya terhadap Mario.
Seandainya kamu masih ada, pasti persahabatan kita makin lengkap dan indah bersama Nayla. Dia baik sekali kepadaku. Pasti kau senang berkenalan dan main bersamanya. Aku merindukan persahabatan kita, Mario.
Pukul tiga sore. Untuk pertama kalinya, Aira mengajak Nayla ke tempat Mario,  yang sejak beberapa tahun lalu dengan tenangnya beristirahat abadi disana. Bunga mawar putih, selalu menyertai kedatangan Aira. Mawar putih adalah bunga kesukaan Aira. Mario tidak begitu menyukai bunga, tapi ia pernah bilang kepada Aira bahwa ia akan menyukai bunga bila Aira yang memberikannya.
“Aira, aku kangen sekali sama kamu. Dan sama kita dulu.”
 “Kamu tuh, kemana aja selama ini. Kamu enggak sedih emangnya kita jadi jauh-jauhan gini. Kamu kenapa ninggalin aku? Mario, kamu enggak sedih emangnya aku jadi kaya gini tanpa kamu disini?”
“Iya, maafin aku. Sungguh ini bukan keinginanku. Aku juga enggak mau pisah sama kamu. Tapi kita enggak bisa melawan kuasa-Nya. Aku pasrah atas semua ini. Tapi, kamu harus janji satu hal sama aku.”
“Apa itu? Kalo aku harus berhenti main hujan-hujanan, aku enggak mau nurutin.”
“Bukan itu. Kamu harus janji sama aku, kamu harus bahagia. Kamu enggak boleh sedih berlebihan. Kamu enggak perlu merasa kesepian. Sekarang kamu punya sahabat yang baik. Kalo kamu kangen sama aku, pejamkan saja matamu di saat hujan. Karena aku selalu ada disana, dan selalu bersamamu saat hujan.”

Mobil jazz biru itu telah sampai di tempat tujuan mereka. Tempat pemakaman. Tampak sepi oleh peziarah. Pohon-pohon disana menciptakan suasana rindang dan sejuk. Nayla mencoba membangunkan Aira, yang selama perjalalan ia tertidur. Saat memperhatikan Aira sedang tertidur, Nayla melihat ekspresi-ekspresi yang keluar dari wajah Aira. Sepertinya Aira tadi memimpikan Mario. Kasihan dia, pasti dia sedih sekali harus menjalani semua ini tanpa sahabat kecilnya itu. Gumam Nayla dalam hatinya, mencoba menyimpulkan arti ekspresi Aira itu.

To be continued...

0 komentar:

Posting Komentar

© Echo | Powered by Blogger | Happy Day Template designed by BlogSpot Design - Ngetik Dot Com