Titik Hujan
Titik-titik air yang sedari tadi
menetes ke tanah kini mulai berubah menjadi tumpahan air. Ya, akhirnya hujan
turun dengan lebatnya. Dia mengambil nafas panjang dan dalam. Kemudian, ia
ambil nafasnya lagi. Lebih panjang, lebih dalam. Aira sudah kecapaian. Tas
punggungnya, tas jinjing laptopnya, membuat ia tak bisa menembus hujan. Aira suka
sekali dengan hujan. Karena sebelum hujan datang, mendung membawa kesan
tersendiri untuknya. Aroma mendung, dia sangat menyukainya. Saat hujan turun,
selebat apapun, walau kegiatannya harus berhenti karena hujan, ia tak akan
mengeluh. Ia sangat menikmati detik menuju menit menuju jam disaat hujan.
Baginya menimbulkan ketenangan batin tersendiri untuknya. Bahkan Aira tak akan
menolak kalau di suruh hujan-hujanan berjam-jam. Setelah hujan, inilah
saat-saat yang paling ia sukai. Tapi hari ini, Aira ingin bermain hujan, tapi
barang bawaannya inilah yang menahannya.
Ah,
andai saja tugas hari ini gak menyita waktu, pasti aku sudah sampai rumah
daritadi. Maaf hujan, hari ini aku
tidak menyambutmu dengan baik.
Waktu
terus berjalan, bagaimanapun perasaannya dan bagaimanapun keadaannya. Begitu
juga dengan Aira. Selalu berusaha melewati hari-harinya dengan tersenyum, dan
bersyukur. Tepatnya sejak hari itu. Hari dimana ia hampir saja meninggalkan
dunia ini. Ia seharusnya bahagia karena mendapatkan kesempatan lagi untuk
hidup. Tetapi, takdir menghadapkan pada pilihan yang sampai kapanpun Aira tak
bisa memilihnya. Ia tetap hidup dan sahabatnya; Mario, yang selalu bersama Aira
sejak TK hingga SMP harus pergi. Selamanya. Kejadian itu, sungguh membuat Aira
tak bisa berkata apapun. Dulu, jika Aira mengingat kejadian itu, ia akan
menangis. Dengan cara itulah mengisyaratkan betapa rindunya Aira terhadap
sahabatnya itu, dan betapa inginnya Aira ingin Mario tetap ada disampingnya.
Untunglah, Aira sudah menemukan cara mengobati kerinduannya kepada Mario;
hujan. Mario dan Aira sama-sama menyukai hujan.
Setelah
Mario tak ada di sisinya lagi, Aira mulai terbiasa sendiri, walaupun ia
bukanlah sosok yang sulit untuk bersosialisasi dengan kawan lainnya. Sejak hari
pertamanya di SMA, Aira menemukan sosok teman yang sekarang menjadi sahabatnya.
Nayla. Teman sebangku Aira, juga teman berbagi keluh kesahnya. Apalagi disaat
ia butuh saran dari seorang sahabat, Nayla ada untuk Aira. Ia mulai berjanji
pada dirinya, akan menjadi sahabat yang baik untuk Nayla, sama seperti janjinya
terhadap Mario.
Seandainya
kamu masih ada, pasti persahabatan kita makin lengkap dan indah bersama Nayla.
Dia baik sekali kepadaku. Pasti kau senang berkenalan dan main bersamanya. Aku
merindukan persahabatan kita, Mario.
Pukul tiga sore. Untuk pertama
kalinya, Aira mengajak Nayla ke tempat Mario, yang sejak beberapa tahun lalu dengan tenangnya
beristirahat abadi disana. Bunga mawar putih, selalu menyertai kedatangan Aira.
Mawar putih adalah bunga kesukaan Aira. Mario tidak begitu menyukai bunga, tapi ia pernah
bilang kepada Aira bahwa ia akan menyukai bunga bila Aira yang memberikannya.
“Aira, aku kangen sekali sama kamu.
Dan sama kita dulu.”
“Kamu tuh, kemana aja selama ini. Kamu enggak
sedih emangnya kita jadi jauh-jauhan gini. Kamu kenapa ninggalin aku? Mario, kamu
enggak sedih emangnya aku jadi kaya gini tanpa kamu disini?”
“Iya, maafin aku. Sungguh ini bukan
keinginanku. Aku juga enggak mau pisah sama kamu. Tapi kita enggak bisa melawan
kuasa-Nya. Aku pasrah atas semua ini. Tapi, kamu harus janji satu hal sama aku.”
“Apa itu? Kalo aku harus berhenti
main hujan-hujanan, aku enggak mau nurutin.”
“Bukan itu. Kamu harus janji sama
aku, kamu harus bahagia. Kamu enggak boleh sedih berlebihan. Kamu enggak perlu
merasa kesepian. Sekarang kamu punya sahabat yang baik. Kalo kamu kangen sama
aku, pejamkan saja matamu di saat hujan. Karena aku selalu ada disana, dan selalu bersamamu
saat hujan.”
Mobil jazz biru itu telah sampai di
tempat tujuan mereka. Tempat pemakaman. Tampak sepi oleh peziarah. Pohon-pohon
disana menciptakan suasana rindang dan sejuk. Nayla mencoba membangunkan Aira,
yang selama perjalalan ia tertidur. Saat memperhatikan Aira sedang tertidur, Nayla
melihat ekspresi-ekspresi yang keluar dari wajah Aira. Sepertinya Aira tadi memimpikan Mario. Kasihan dia, pasti dia sedih
sekali harus menjalani semua ini tanpa sahabat kecilnya itu. Gumam Nayla
dalam hatinya, mencoba menyimpulkan arti ekspresi Aira itu.
To be continued...

0 komentar:
Posting Komentar